Skip to main content

Langkah Pertama Saya Dalam Mengatasi Kesulitan Finansial



Beberapa tahun lalu, saya dan suami saya memiliki gaya hidup yang sama dengan beberapa orang di sekitar kami. Kami suka makan di luar (restoran), mengunjungi tempat-tempat kekinian, menghabiskan weekend di mal, hingga beli barang-barang bagus yang sepertinya semua orang punya dengan cicilan nol persen. Selama beberapa tahun, hal ini terlihat baik-baik saja. Hingga kami sadar bahwa penggunaan kartu kredit kami telah hampir sama dengan jumlah pendapatan kami setiap bulannya.

Kami pun sadar bahwa kami ngga punya dana cadangan untuk hal-hal yang bersifat darurat (atap tiba-tiba bocor, mobil tiba-tiba harus ganti spare part). Untuk hal seperti ini, mungkin kami masih bisa mengandalkan kartu kredit. Tapi.. Sampai kapan? Ngga semua hal bisa menggunakan kartu kredit (halo ketoprak enak langganan yang selalu lewat di depan rumah).

Hingga akhirnya, selama beberapa bulan berikutnya, kami lelah. Kami pingin mengatasi keuangan kami secepatnya. Tapi bagaimana?

Untungnya, kami selalu membayar full tagihan kartu kredit kami. Kami selalu menghindari pembayaran minimum karena ngga pernah mau kena bunganya. Tapi ya itu, jadinya tiap gajian selalu habis untuk bayar tagihan kartu kredit. Dan uang kas di tangan sangatlah minim. Uang kas saja ngga apa, apalagi dana darurat di tabungan?

Sedang bingung sambil berselancar di Instagram, salah satu akun Islam favorit saya menjelaskan tentang hukum asuransi dari sudut pandang Islam. Baca sekilas, cukup bingung juga. Lalu saya baca lagi pelan-pelan dan mencoba memahami hukum-hukum yang sedang dibahas oleh akun Islam tersebut. Tiba-tiba mata saya terbuka, dan saya punya ide.

Saat itu saya sedang mengikuti sebuah asuransi kesehatan yang preminya selalu saya bayar setiap bulan. Saya cari dokumen asuransi tersebut yang ngga pernah saya sentuh sejak saya terima itu. Perjanjian dengan asuransi tersebut adalah selama 10 tahun. Saat itu sudah berjalan 8 tahun. Saya bingung dengan hitungan angka-angka yang ada di polisnya hingga akhirnya saya telepon contact centernya. 

Saya banyak bertanya pada customer servicenya (saat itu pria). Pertanyaan utama saya adalah, "Bagaimana jika saya tutup polis saya sekarang? Berapa uang saya yang akan kembali?" (Iya, beberapa juta ngga akan kembali karena yang namanya asuransi jika ngga terjadi apa-apa ya bagus tapi uang saya hilang, btw, sejak saya daftar asuransi ini, saya belum pernah sekalipun ngeklaim karena Alhamdulillah saya sehat, dan semoga sehat selalu aamiin).

Mas di balik telepon menyebutkan beberapa angka yang membuat saya bengong. Besar juga ya, pikir saya. Jumlahnya bisa membayar kartu kredit hingga lunas (dan mau saya tutup ah), bisa untuk hidup satu bulan ke depan, plus saya jadi punya dana darurat. Dengan perasaan hepi saya bilang ke mas-nya kalau saya mau tutup saja asuransi saya karena saat ini sudah dicover oleh pihak lain (karena mas-nya bilang sayang kalau ditutup padahal tinggal 2 tahun lagi, dll). Dan ya, saya memang sudah dicover oleh pihak lain.

Akhirnya si mas mengirimkan semacam permohonan penutupan polis ke email saya, serta ada beberapa dokumen yang harus saya isi, dll. Cukup mudah sih nampaknya. Tapi sebelum saya lakukan penutupan itu, saya menghubungi teman saya yang dulu menjadi agen asuransi saya ini. Istilahnya, mau pamitan dan kasih tahu kalau saya mau tutup asuransinya. Saya jelaskan juga alasan sebenarnya kenapa saya mau tutup asuransi ini.

Ngga disangka, teman saya mau bantu proses penutupannya, padahal dia sudah ngga bekerja di sana. Jadilah dia bantu saja, dengan proses selama kurang lebih 2 (dua) bulan, asuransi saya pun ditutup dan ada sejumlah dana yang ditransfer ke rekening saya. Dan akhirnya, saya bisa hidup tenang tanpa beban harus membayar cicilan kartu kredit.

Lalu, bagaimana saya menjalani hidup saya sejak itu?

1. Saya live below your means, hidup di bawah standar gaji yang saya terima. 

2. Fokus ke four walls (food to cook, housing and utilities, transportation, and basic clothes).

3. Menabung untuk melakukan suatu pembelian besar. Ngga lagi mengandalkan cicilan kartu kredit. Menabung dulu untuk vacation misalnya.

4. Menabung agar punya dana darurat. Dana ini untuk sewaktu-waktu dibutuhkan. Misalnya tiba-tiba HP rusak, bisa diambil dari dana ini. 

5. Menutup semua kartu kredit saya. Iya, semuanya. 

6. Last but not least, membuat budget. Kata budget ini mengerikan untuk beberapa orang tapi sebenarnya budget itu membebaskan, bukan membatasi. Dengan budget saya jadi punya dana untuk hidup, bersenang-senang, dan tabungan.

Kalau kami bisa, kamu pun juga bisa. Ambil langkah sekarang.

Sukses ya!




Comments

Popular posts from this blog

Budget, Langkah Awal Untuk Menata Keuangan Saya

Beberapa tahun yang lalu, ada saat-saat dimana saya menerima gaji, menggunakannya, dan kemudian bingung kemana perginya saldo gaji tersebut. Hingga akhirnya menunggu hingga awal bulan lagi (gajian) dengan perasaan deg-degan, cukup ngga ya uang yang tersisa untuk hidup hingga akhir bulan..? 

Pernah merasakan hal yang sama? Berarti kamu sama seperti saya beberapa tahun yang lalu. Rasanya ngga nyaman. Lupakanlah menabung, untuk hidup hingga akhir bulan saja sudah beruntung. Hingga saya mengenal dengan yang dinamakan dengan budget.


Berbicara mengenai budget atau anggaran, beberapa orang mungkin merasa bahwa dengan adanya budget:
1. Ribet.
2. Budget hanya untuk orang yang sudah memiliki penghasilan yang cukup, atau malah cenderung memiliki penghasilan yang besar, yang sudah bisa menabung, dll. Untuk penghasilan yang kecil begini buat apa punya budget.
3. Budget itu membatasi. Nanti malah ngga bebas mau beli ini beli itu.

Tahukah kamu, besar atau kecilnya budget ngga membatasi seseorang untuk mem…

Metode Simpel Budget: 50/20/30

Banyak cara untuk membuat budget yang dapat menjadi referensi kamu di luar sana. Buat kamu yang baru pertama kali ingin membuat budget, metode simpel 50/20/30 bisa menjadi awalnya. Metode ini juga menjadi awal persentase budget saya saat ingin mulai membenahi keuangan saya.
Sumber: note.moneylover.me
Bagaimana caranya?
1. Siapkan 3 (tiga rekening).
Iya, kamu ngga salah baca. Tiga rekening. Banyak? Ngga juga. Karena kalau kamu mulai serius dengan kondisi finansial kamu, maka menjalaninya juga harus serius. Salah satunya dengan membuat 3 rekening. Bebas di bank mana saja. Kalau ngga mau kena biaya transfer, bisa membuat di bank yang sama.
Ketiga rekening ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Misalnya rekening A untuk kebutuhan, rekening B untuk fun, rekening C untuk tabungan. Bagaimana jika sudah punya rekening bank untuk menerima gaji? Bisa dimanfaatkan untuk rekening kebutuhan atau fun, tapi sebaiknya ngga digunakan untuk rekening tabungan.
Rekening tabungan sifatnya khusus, sebaiknya ATMn…

Berapa Kekayaan Bersih Kamu?

Sumber: experian.com

Apa yang bikin semangat (booster) untuk menata keuangan pribadi?
Jawaban saya adalah net worth atau kekayaan bersih. 
Apa itu kekayaan bersih? 
Menurut Wikipedia, kekayaan bersih adalah nilai semua aset baik aset keuangan maupun non-keuangan (yang berupa uang atau ngga) dikurangi seluruh kewajiban (baca: utang). Untuk ilustrasi mudahnya bisa lihat gambar di bawah ini.


Sumber: ratnadewi.me

Kenapa tabel ini bisa membuat semangat? 
Karena dengan membuat tabel seperti ini, kamu bisa melihat pergerakan kekayaan bersih kamu. Dengan melihat pergerakan kekayaan bersih, kamu akan memiliki semangat untuk menabung, menambah aset, hingga mengurangi jumlah utang.
Caranya bagaimana?
Buat di selembar kertas (atau di Microsoft Excel agar lebih rapi) daftar aset dan kewajiban kamu. Untuk contohnya bisa dilihat di gambar di bawah ini.

Sumber: thefinancialdiet.com

Selanjutnya, buatlah net worth atau kekayaan bersih tersebut setiap bulan dan lihat pergerakannya. Jika terus mengalami peningkatan…